Awan hitam itu
kini telah berubah menjadi rintik – rintik hujan yang semakin menderas,
membahasahi pipi imut si gadis cantik yang sedang termenung memandang nilai
ulangan hariannya.
Kreek …, suara
pintu dibuka. Seketika gadis yang bernama Ana itu terkejut, ia segera menyeka
air mata yang masih membasahi pipinya.
“Eh, Ana sudah
bangun, yuk sholat shubuh bersama ibu” ajak ibunya yang sedikit terkejut karena
biasanya ia belum terbangun.
“Iya, bu” ujar
Ana
Akhirnya merekapun sholat berjamaah,
ibunya yang menjadi imam menggantikan ayahnya yang baru saja meninggal satu
bulan yang lalu. Selesai sholat Ana langsung menyambar handuk merah jambu
kesayangannya dan segera masuk kekamar mandi, setelah itu, segera memakan
makanan kesukaannya yang dibuat dengan penuh cinta dari ibunya, setelah itu ia
segera berpamitan dengan ibunya dan langsung menaiki seperdanya menuju
kesekolah.
Sesampainya
disekolah ia segera memparkirkan sepedanya dihalaman belakang dan langsung
menuju kekelasnya dilantai 3, ia lalu menduduki bangku kosong disamping
sahabatnya Ina.
“In, hari ini
ada ulangan IPS kan?” tanya Ana
“Iya, Ana kamu
sudah belajarkan?” Ina balik bertanya
“Sudah sih,
tapi aku ketiduran, he he he” jawab Ana
“Eh, An ini
ulangan Matematikamu” ujar Ina
Seraya memberikan 2 lembar kertas
Setelah menerima hasil ulangannya
dan melihat nilainya Ana pun terkejut, ia tak menyangka nilainya akan turun
lagi, ia kembali menitikkan air matanya.
“Kenapa Han,
kok nangis sih?” tanya Ina
“Gak papa kok”
jawab Ana
“Gak papa kok
nangis, cerita aja” ujar Ina
Hana menunjukkan hasil ulangan
matematikanya
“Ooh sebab ini”
ujar Ina
“Bukan hanya
masalah nilai ini ku menangis” ucap Ana dengan perlahan menyaka air matanya
“Lalu, kenapa
kamu menangis?” Ina semakin penasaran
“Aku … Aku belum bisa menuruti keinginan terakhir
ayahku, ia ingin aku bangkit, mendapat nilai yang terbaik, tapi apa kenapa kini
nilaiku semakin menurun” jelas Ana
“Ana,
kegagalan itu bukan akhir kesuksesan, tapi kegagalan adalah kunci kesuksesan.
Seseorang jika ingin sukses harus berusaha walau rintangan menghadang” nasihat
Ina
“Aku sudah
berusaha In, tapi … “ perkataan Ana dipotong oleh Ina
“Tapi apa,
teruslah berusaha An, jangan berputus asa, terus belajar pasti akan ada pintu
kesuksesan menantimu” Ina terus menyemangati Ana
“Ok, baiklah
terimakasih kamu sudah menyemangatiku” ucap Ana
“Teruslah
berusaha, nanti kan sehabis istirahat ada pelajaran matematika, nah nanti akan
diadakan remidi, saat itu perbaikilah nilaimu” ucap Ina
“ Tapi kamu
harus mengajariku” pinta Ana
Ina pun menyetujuinya, akhirnya
pelajaran jam pertama pun dimulai
Saat istirahat Ina dan Ana tidak membeli makanan, mereka tetap dikelas. Ina pun menepati
janjinya untuk mengajari Ana, tak terasa waktu istirahat pun berakhir,
pelajaran matematika dimulai, Ana mulai mengerjakan soal remidi, ia selalu
mengingat pesan Ina bahwa jangan pernah putus asa karena ia pun ingin
membanggakan orangtuanya terutama ayahnya, yang sangat menginginkan ia berhasil
dan mendapat nilai yang memuaskan. Waktu mengerjakan soal telah habis saatnya
menunggu dikoreksi, tak lama kemudian Ana menerima hasil remidi dari gurunya
ternyata ia mendapat nilai yang sangat memuaskan.
“Tuh kan, pintu
kesuksesan terbuka lebar untukmu Ana, selamat kau sudah membanggakan orang
tuamu” Ina juga tak kalah senangnya dengan Ana
Akhirnya Ana pun bisa bangkit dan
membahagiakan orang tuanya.
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar